Di balik ketatnya jadwal hafalan Al-Qur’an dan aktivitas lain nya di Pondok Pesantren Al Fatah Darussalam Wajak, ada satu momen sederhana namun sarat makna yang selalu dinanti oleh para santri. Momen itu adalah saat nampan-nampan besar berisi nasi dan lauk pauk hangat mulai dihidangkan di tengah-tengah mereka.
Inilah kisah tentang tradisi makan bersama—atau yang akrab disebut mayoritas atau kembulan—sebuah potret nyata kebersamaan dalam kebaikan yang terus dirawat di bumi Patokpicis, Wajak, Kabupaten Malang.
Meruntuhkan Ego dalam Satu Nampan
Bagi santri tahfidz putra di Al Fatah Darussalam, makan bukan sekadar urusan mengisi perut yang lapar setelah seharian murajaah dan menyetor hafalan. Makan bersama dalam satu wadah besar adalah madrasah pertama untuk melatih kepekaan sosial dan meruntuhkan ego pribadi.
Saling Mendahulukan (I’tsar): Di atas nampan yang sama, tidak ada yang mendominasi. Santri diajarkan untuk saling berbagi lauk, memastikan teman di sebelahnya mendapatkan bagian yang cukup, dan tidak serakah.
Kesederhanaan yang Mewah: Lauk yang disajikan mungkin sederhana, namun ketika dinikmati bersama secara melingkar, kehangatan canda tawa dan rasa syukur mengubah hidangan tersebut menjadi luar biasa mewah.
Menghidupkan Sunnah, Mengundang Berkah
Tradisi makan bersama ini bukan tanpa alasan. Para santri diajarkan untuk mengamalkan sunnah Rasulullah ﷺ yang menyebutkan bahwa makanan yang disantap bersama-sama akan membawa keberkahan yang jauh lebih besar.
“Makanlah bersama-sama dan sebutlah nama Allah (membaca basmalah) padanya, maka berkah bagimu akan dicurahkan.” (HR. Abu Dawud)
Keberkahan ini sangat terasa di lingkungan pondok. Rasa lelah setelah berjuang menghafal baris demi baris ayat suci Al-Qur’an seolah menguap begitu saja saat mereka duduk bersila, membaca doa makan bersama, dan menyuap nasi dengan tangan kanan secara tertib. Hubungan persaudaraan (ukhuwah) antar-santri pun terikat semakin kuat dan solid.
Tempat Terbaik Menempa Karakter Qur’ani
Suasana alam Patokpicis, Wajak yang sejuk dan tenang sangat mendukung proses belajar dan menghafal para santri. Di lingkungan yang kondusif inilah, pembentukan karakter mulia—mulai dari adab makan, adab bergaul, hingga adab menjaga Al-Qur’an—ditanamkan secara konsisten setiap hari.
Makan bersama yang penuh berkah ini hanyalah satu dari sekian banyak potret keindahan hidup mandiri di pesantren. Melalui kebersamaan dalam setiap kebaikan kecil seperti ini, lahir generasi hafiz yang tidak hanya kuat hafalannya, tetapi juga lembut hatinya dan siap menebar manfaat bagi masyarakat luas.
Mari Menjadi Bagian dari Keluarga Besar Kami!
Pondok Pesantren Tahfidz Al Fatah Darussalam Wajak senantiasa membuka pintu bagi para orang tua yang ingin mengamanahkan putra-putranya untuk tumbuh bersama Al-Qur’an dalam lingkungan yang hangat, penuh berkah, dan mandiri
